
Kota Semarang (Humas) – Penyuluh Agama Kristen Kankemenag Kota Semarang memberikan bimbingan keagamaan dan penyuluhanan pembangunan dari kacamata agama, kepada Guru Sekolah Minggu (GSM) di wilayah Kecamatan Pedurungan, Senin (10/3/2025).
Bertempat di Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) yang berlokasi di Jl. Supriyadi Semarang, kegiatan diawali dengan menaikkan beberapa pujian dan doa pembukaan yang dipimpin oleh Ester Damarjanti.
Kali ini, Rustomo selaku Penyuluh Agama Kristen memberikan penyuluhan terkait peduli lingkungan sebagai tindak lanjut atas program inovasi instanti yang menaunginya, “Klangenan” (Kementerian Agama Peduli Pangan dan Lingkungan). “Guru Sekolah Minggu harus bisa memberikan contoh atau teladan kepada anak-anak dalam hal menjaga kebersihan lingkungan kelas seperti, membuang sampah pada tempatnya,” tuturnya.
Tak hanya disiplin dalam membuang sampah, GSM juga diimbau untuk mengajarkan kepada peserta didik tentang perilaku peduli lingkungan dengan menerapkan 3R, reduce, reuse, dan recycle. “Mari mulai kita biasanya untuk menggunakan barang-barang yang ramah lingkungan, menggunakan barang yang tidak sekali pakai, sehingga bisa mengurangi produksi sampah,” pesannya.
“Selain itu, untuk mengurangi timbunan sampah, ajarkan kepada anak-anak melalui contoh tindakan nyata seperti pilah sampah. Mana sampah yang bisa didaur ulang menjadi produk lain yang bermanfaat pula seperti, sampah plastik untuk menjadi aneka kreasi hiasan rumah dan pot, sampah organik untuk kompos, ban bekas menjadi tempat sampah, dan masih banyak lagi lainnya,” imbuhnya.
Rustomo menandaskan, kelestarian lingkungan bisa terwujud apabila seluruh bagian masyarakat ikut mengambil peran. “Langkah kecil kita besar artinya dalam melindungi bumi kita, menjadikan kota yang kita cintai ini bersih dan nyaman. Yuk, kita ikut andil mengurangi sampah di Kota Semarang,” ajaknya.
“Produksi sampah di Kota Semarang setiap hari 1juta ton, dan yang bisa ditampung di Tempat Pembuangan Akhir atau TPA Jatibarang hanya 750 sampai 800 ton. Jadi kalau kita tidak bertindak, maka Kota Semarang akan menjadi kota yang kotor dan tenggelam oleh sampah,” sambungnya.
Rustomo mengatakan, untuk pertemuan selanjutnya, GSM akan diajarkan cara membuat kompos dari sampah organik yang bersumber dari sisa sayuran, buah, daun kering, dan limbah dapur, serta pembuatan Pupuk Organik Cair (POC), Eco Enzym dan bio pori. Mendengar itu, GSM sangat senang dan antusias.
Kegiatan tersebut diikuti oleh 25 GSM penerima insentif dari Pemkot Semarang atau Pemprov Jateng.
Penyuluhan diakhiri dengan doa penutup yang di pimpin oleh Deisy.(Rus/Nba)