Kota Semarang (Humas) – Sekasa (18/3^2025), Penyuluh agama Islam Kankemenag Kota Semarang, Rinduwan dan Ricky Wasito, memberikan penyuluhan kepada warga binaan Rutan Kelas I yang berada di Jl. Dr. Cipto No. 62 Kota Semarang.
Mengawali penyuluhannya, Rinduwan mengingatkan bahwa sebentar lagi akan muncul malam seribu bulan, untuk itu diimbau kepada jemaah untuk dapat menyempatkan waktu mencari malam al qadar tersebut.
Ricky menambahkan, Al-Qur’an diturunkan pada malam al qadar sebagaimana firman Allah dalam Surah Al Qadar ayat 1.
Ia mengatakan, Al-Qur’an merupakan mukjizat untuk melemahkan para penentangnya. “Al-Qur’an dikatakan Mukjizat karena merupakan fenomena luar biasa, dipaparkan oleh orang yang mengaku nabi, mengandung tantangan bagi yang ragu dan tantangan tersebut gagal dilayani,” ujar Ricky.
Sambungnya, ada tiga aspek kemukjizatan Al-Qur’an dari sekian banyak aspek yang dikemukakam oleh para ulama. “Tiga aspek kemukjizatan Al-qur’an adalah dari segi bahasa, isyarat ilmiah, dan syariat,” ungkapnya.
Al-Qur’an turun dengan bahasa Arab yang indah melampaui keindahan bahasa dan sastra Arab masa Jahiliah dimana saat itu mereka begitu mengagungkan bahasa arab bahkan sering mengadakan perlombaan syair, khutbah, petuah dan nasihat. Syair-syair yang dinilai indah akan digantung di Kakbah sebagai penghormatan kepada penggubahnya sekaligus agar dinikmati masyarakat. Penghargaan yang tinggi terhadap syair dan sastra Arab membuat para penyair mendapatkan kedudukan tinggi di mata masyarakat Arab. Mereka dinilai sebagai pembela kaumnya, sebab dengan syair dan gubahan mereka reputasi (pamor) suatu kaum atau seseorang dapat meningkat pesat, begitu pula sebaliknya. Maka tak heran sering ditemukan para bangsawan Arab memerintahkan penyair memuji mereka. “Ketika Al-Qur’an turun dengan keindahan bahasanya yang mengandung kefasihan, kesempurnaan penyampaian (bayan), keserasian kata dan kelancaran logika, maka bangsa Arab tertegun akan kemukjizatan Al-Qur’an tersebut, sekalipun mereka memiliki pencapaian tinggi dalam sastra Arab, baik syair atau prosa, namun mereka tetap tidak berdaya menghadapi kemukjizatan Al-Qur’an dari segi bahasa,” papar Ricky.
Kemukjizatan Al-Qur’an dari segi isyarat ilmiah bukan terletak dalam teorinya yang selalu berubah, akan tetapi terletak pada motivasinya kepada manusia agar senantiasa berpikir dan menggunakan akal. Al-Quran mendorong manusia untuk memikirkan tentang alam sekitar, dari mulai hal yang terkecil sampai yang terbesar.
Melalui perenungan dan tadabur tersebut, manusia diharapkan sampai kepada kesimpulan tentang kemahakuasaan Allah SWT sebagai Sang Pencipta yang tiada duanya. “Kemukjizatan Al-Qur’an dari segi isyarat ilmiah ini juga dapat membawa manusia mengenal lebih jauh tentang alam semesta dan keilmuan yang mungkin dapat disimpulkan darinya seperti ilmu biologi, zoologi, astronomi dan geografi. Dan pada puncaknya, banyak ilmuwan yang masuk Islam karena penemuan ilmiah yang selaras dengan Al-Qur’an seperti, Prof. William Brown, Prof. Dr. Leopold Werner Von Ehrenfels, Dr. Masaru Emoto, Dr. Maurice Bucaille dan lain-lain,” terang Ricky.
“Ada banyak orang yang keliru memahami tentang kemukjizatan Al-Qur’an dari segi isyarat ilmiah. Mereka mengira bahwa dalam Al-Qur’an selalu ada teori-teori ilmiah, padahal ilmu pengetahuan akan selalu berubah dan berkembang sesuai temuan-temuan mutakhir. Dalam hal ini, bisa saja teori terdahulu difalsifikasi oleh teori terbaru. Jika “cocoklogi” teori dipaksakan, maka Al-Quran mungkin akan terkesan salah atau keliru manakala terjadi pergeseran teori,” sambungnya.
Kemukjizatan Al-Qur’an dari segi syariat. Dalam sejarah umat manusia, terdapat berbagai doktrin, sistem dan perundang-undangan (syariat atau hukum). Itu semua biasanya bertujuan untuk mencapai kebahagiaan individu atau kelompok dalam kehidupan masyarakat, namun tidak ada satu pun dari hal tersebut yang dapat menyaingi keindahan dan kebesaran syariat atau Al-Qur’an
“Menurut pandangan umat Islam, bisa dikatakan bahwa Al-Qur’an mengandung hukum atau syariat yang paling ideal dan undang-undang yang paling lurus bagi kehidupan manusia. Al-Qur’an telah memberikan aturan dan tuntunan secara universal kepada manusia mengenai berbagai aspek kehidupan, mulai dari yang bersifat individual hingga komunal.
Meskipun secara kasat mata syariat Al-Qur’an terlihat tidak adil dan sebagainya, namun sesungguhnya dibalik itu ada kesempurnaan hukum yang tak terkira. Bisa dikatakan seluruh syariat Al-Qur’an tanpa terkecuali memuat hikmah yang luar biasa seperti, hukum hudud, aturan waris, dan ketentuan transaksi keuangan. Dari syariat itu dapat digali nilai ideal moral yang dapat digunakan dalam aturan masyarakat sekalipun dalam bentuk berbeda,” pungkas Ricky.(Ricky/Nba)